Minggu, 12 September 2021

Cerpen: Jelang Tamat SD

"Horee... Ujian nasional sudah terselesaikan!" teriak galat satu temanku, Yogi. Aku berkata "Iyaa.. Sekarang tinggal nunggu output ujian kita atau NEM". Yogi mungkin merupakan satu-satunya teman yang mengerti mengenai aku , jadi dia adalah sahabat terbaikku selama aku duduk di bangku SD. Setelah usang aku mengobrol menggunakan sahabat-temanku, akhirnya bel sekolah berbunyi. Kami pun pribadi berkumpul di halaman sekolah buat mendengarkan pengumuman-pengumuman menurut kepala sekolah SD Negeri 3 Sading.

"Anak-anak, ujian nasional telah terselesaikan, semoga NEM kalian rupawan-indah seluruh. Hari Sabtu nanti kita semua akan melakukan perpisahan pada pura Tampaksiring. Anak-anak kelas 6 harus ikut, bagi anak-anak kelas tiga keatas boleh ikut. Biayanya 80.000 Rupiahdanquot; kata ketua sekolah melalui pengeras bunyi. Semua berteriak kegirangan ?Yess...?.

Setelah mendengar pengumuman, semua siswa pun dipulangkan. Hari itu adalah hari sesudah ujian nasional. Jadi tidak ada kegiatan belajar mengajar. Kami tidak perlu membawa tas & menggunakan pakaian kerja bakti (baju olahraga celana biru atau coklat apabila hari Jumat dan Sabtu). Di perjalanan pergi, aku sempat mengobrol dengan teman-teman aku lagi mengenai perpisahan yang akan diadakan pada pura Tampaksiring. Aku bertanya "kalian seluruh ikut tamasya(istilah sahabat-temanku)?". Temanku yg kelas 6 bilang ?Ikut dong?. Yang kelas tiga,4, dan 5 terdapat yg bilang ikut terdapat juga yang bilang nir ikut.

Akhirnya hingga juga aku di rumah. Maklumlah kalau cepat sampainya karena jarak antara rumahku menggunakan sekolah lebih kurang 100 meter. Sampai di tempat tinggal aku eksklusif bercerita sama ibuku tentang tamasya itu. Ibuku menyuruhku untuk menyiapkan semuanya berdasarkan sekarang dan uangnya. Keesokan harinya (hari Jumat) ibuku memberi saya uang sesuai dengan biaya tamasya, yaitu Rp 80.000 dan saya pun berangkat ke sekolah dengan berpakaian kerja.

Di sekolah aku hanya membayar biayanya dan mendengar pengumuman mengenai hal-hal yang herbi tamasya. Pengumumannya: Jam 7 pagi bis sudah berangkat, biaya telah termasuk porto bis, makan siang, & biaya perpisahan. Setelah itu kami langsung pulang. Sepulang sekolah aku pribadi meminta bapakku buat membelikan snack, minuman, dan obat anti mabuk. Ibuku memberi aku uang sebesar Rp50.000 buat bekal tamasya. Malamnya, selesainya semua disiapkan, aku memasukkannya ke dalam tas dan pribadi tidur.

Sekarang saatnya tamasya ke pura Tampaksiring! Saya sengaja bangun pagi-pagi sekali sekitar jam setengah 5 pagi buat bersiap-siap & mengecek barang-barang yang harus dibawa. Lalu aku mandi sambil keramas & memakai sandang yang biasa aku gunakan buat jalan-jalan. Kenapa nir sandang adat? Karena ?Event? Ini merupakan tamasya perpisahan bukan tirtayatra. Tidak lupa saya minum obat anti mabuk 30 menit sebelum bis berangkat.

Saatnya berangkat ke sekolah. Saya berangkat dengan diantar bapakku. Saya sampai di sekolah jam 7 kurang 15 mnt, 15 mnt sebelum bis berangkat. Saya mengusut isi tas lagi dan sempat berfoto-fotoan bersama sahabat-sahabat di sekolah. Sebelum berangkat, kami berdoa dan menghitung siswa yg hadir. Kemudian kami menaiki bis secara tertib. Bis akan berangkat, ternyata bisnya Cuma bis hijau biasa berjumlah 2 butir. Aku mendapat tempat duduk pada barisan ke 2 berdasarkan depan bersama Yogi, sahabat terbaikku. Di bepergian, kami semua bernyanyi ria buat menghilangkan rasa bosan & mabuk. Kami memulai dengan menyanyikan lagu ?Naik-Naik ke Puncak Gunung?. Walaupun kami nir ke Bedugul ataupun ke Kintamani. Tapi kami merasa terhibur. Sekitar setengah jam saya berada di bis, semuanya telah bosan menyanyi. Barulah mulai terdapat orang yang muntah-muntah. Tapi syukurlah saya dan Yogi tidak muntah pada perjalanan.

Setelah lebih kurang 1 jam berada pada bis, akhirnya hingga jua kami pada tujuan, pura Tampaksiring. Baru saja aku keluar berdasarkan bis sudah dikerumuni para pedagang bagaikan seniman diminta tanda tangan. Tawaran para pedagang sangat majemuk. Ada yang jual snack, minuman, mainan, patung kayu, dan terdapat jua yg bawa ?Omang-omang?. Aku tidak menghiraukannya, Cuma bilang ?Iyaa, nanti jikalau udah mau pergi baru aku belanja?, tapi permanen saja mereka mengerumuniku hingga saya sampai di tempat berkumpul buat program perpisahan.

Kami berkumpul buat melaksanakan acara perpisahan di sebuah bale besar diatas kolam ikan. Sebelum program dimulai, kami makan nasi bungkus yang telah dibagikan dan snack yg kami bawa berdasarkan rumah. Saya sempat berfoto-foto sementara waktu bersama sahabat-temanku. Semuanya aneh-aneh sekali gayanya berfoto dan sempat jua berfoto beserta anak-anak kelas 6.

Acara perpisahan dimulai, acara dimulai menggunakan ceramah menurut para guru & kepala sekolah. Dilanjutkan dengan pidato menurut ketua kelas, pembacaan puisi perpisahan, & menyanyikan lagu bersama. Setelah itu seluruh murid-murid kelas lima,4,tiga bersama pengajar-pengajar & kepala sekolah yang ikut bersalaman menggunakan siswa kelas 6. Hampir semuanya berpesan kepadaku misalnya ini ketika bersalaman ?Hedi, kamu pintar, pertahankan nanti pada SMP ya...?. Suasana pada waktu itu sangat menyedihkan karena poly yang menangis. Setelah terselesaikan bersalaman, poly sahabat-temanku yg memelukku bahkan beberapa ada yg menangis. Aku Cuma tersenyum dan mengungkapkan ?Makasi yaa...?. Acara perpisahan ditutup dengan doa.

Setelah program perpisahan selesai, ketua sekolah mengizinkan siswa-murid untuk jalan-jalan dan berkeliling pura Tampaksiring. Saya berkeliling bersama Yogi. Pertama, aku ke areal pura Tampaksiring. Disana saya melihat kolam ikan yg pungkasnya misterius & sebuah kolam mandi dengan beberapa pancoran. Kedua, aku beserta sahabat aku berjalan ke istana Tampaksiring. Disana aku hanya berfoto-foto saja. Lalu kami pergi berbelanja di areal parkir buat membeli oleh-oleh dan es krim. Saya balik diserbu oleh pedagang-pedagang tersebut. Terpaksa saya membeli sebuah patung Garuda yg terbuat dari kayu, mumpung harganya murah Cuma Rp10.000. Saya menghabiskan uang kurang dari Rp30.000 padahal aku diberi uang Rp50.000 ditambah isi dompetku yg nir saya ketahui jumlahnya.

Setelah selesai jalan-jalan, sempurna jam 1.30 siang saya balik ke tempat kumpul tadi. Saya menunggu yg lain datang dulu, sembari menunggu aku minum obat anti mabuk terlebih dahulu. Setelah menunggu baru melakukan penghitungan anak didik agar nir terdapat yg ketinggalan. Setelah seluruh terhitung kami masuk ke dalam bis. Kali ini dengan tidak tertib. Saya duduk ditempat & menggunakan orang yang sama menggunakan yang tersebut. Perjalanan terasa agak membosankan, mungkin lantaran semuanya kelelahan. Beberapa ada yang muntah tapi temanku dan saya tidak muntah (syukurlah).

Setelah ?Tersiksa? Selama hampir 1 jam akhirnya kami sampai pula pada SD ku, SD Negeri tiga Sading. Saya merogoh semua barang dan sang-oleh buat bapak, mak , & adik aku . Dan hari Senin aku sekolah misalnya biasa, menggunakan pakaian kerja hingga minggu depan yang merupakan hari pembagian rapot.

Hari Sabtu selanjutnya. Seperti biasa saya bermain & mengobrol beserta teman-temanku. Dan sampai saat yang aku tunggu-tunggu pun datang. Yaitu pembagian rapot kelas 6 semester 2 yg mungkin merupakan rapot SD terakhirku. Bel tanda kumpul berbunyi, kami pun berkumpul pada loka dimana kita biasa berkumpul. Sebelum rapot dibagikan, diumumkan terlebih dahulu siapa saja yang menerima ranking tiga akbar. Ternyata, Juara 3 merupakan (saya lupa), juara dua adalah I Putu Hedi Sasrawan, dan kampiun 1 merupakan Gusti Ayu Mitariyani (Komang, satu-satunya sainganku). Lantaran muris di kelas 6 Cuma berjumlah 17 orang, jadi lumrah saja kalau aku selalu dapat ranking 1 atau 2. Aku berpikir niscaya NEM ku lebih rendah menurut dia. Lalu semuanya memberi ucapan selamat kepadaku & nir lupa saya memberi ucapan selamat pada Komang & kelas lima kebawah akan libur selama tiga minggu. Sementara saya & sahabat-sahabat kelas 6 lainnya akan libur selamanya menurut Sekolah Dasar Negeri 3 Sading. Tapi, hari Rabu nanti semua murid kelas 6 harus datang ke sekolah buat melihat NEM & pembagian ijazah.

Hari Rabu telah datang, aku berangkat ke sekolah menggunakan seragam batik. Saya terus berpikir jika Komang NEM nya 25 kebawah, saya berapa ya? Apa aku mampu bisa sekolah pada Sekolah Menengah pertama Negeri lima Denpasar? Sampai pada sekolah saya melihat Komang bersama ajiknya ke sekolah. Komang terlihat sangat percaya diri. Setelah semuanya sudah tiba, NEM masing-masing anak didik pun ditempelkan pada papan pengumuman & aku terkejut bila NEM ku tertulis 27,00, jauh lebih tinggi dibandingkan si ranking 1 & saya menerima NEM tertinggi di kelasku. Aku sangat senang dan Komang terlihat membuat malu & lalu menangis. 1 jam kemudian kami seluruh mengambil ijazah.

Akhirnya cita-citaku ingin bersekolah pada SMP Negeri 5 Denpasar ternyata tercapai. Aku sangat senang , apalagi hanya aku saja yang bersekolah pada SMP Negeri lima Denpasar (hingga lulusan sekarang). Saya pun memulai jalan baru, menjadi anak didik Sekolah Menengah pertama Negeri 5 Denpasar seseorang diri tanpa terdapat teman yg saya kenal sebelumnya. Aku harus bangkit, Tetap Semangat!

Cerpen setengah nonfiksi yg menarik tadi ditulis sang I Putu Hedi Sasrawan (itu aku ! Hehehe?). Saya menciptakan cerpen ?Yg menarik? Ini lantaran dituntut sang tugas Bahasa Indonesia yg disuruh membuat artikel tentang pengalaman pribadi. Tetapi aku menggunakan bahagia hati mengerjakannya. Smile

Kuliner Khas Kutai Timur

Sambal raja terbuat dari cabai, bawang merah, terasi, tomat yang digoreng hingga lembek dan mudah dihaluskan. Disertai dengan tempe, udang, ...