Minggu, 08 Agustus 2021

Tahap-Tahap Perkembangan Kepribadian (Materi Lengkap)

Tahap-tahap perkembangan kepribadian setiap individu tidak bisa disamakan satu dengan yang lainnya. Namun secara umum bisa dirumuskan menjadi berikut.

Fase pertama dimulai semenjak anak berusia satu hingga 2 tahun, waktu anak mulai mengenal dirinya sendiri. Pada fase ini, kita bisa membedakan kepribadian seseorang menjadi dua bagian krusial, yaitu sebagai berikut:

Bagian yang pertama berisi unsur-unsur dasar atas berbagai sikap yang disebut dengan attitudes yang kurang lebih bersifat permanen dan tidak mudah berubah di kemudian hari. Unsur-unsur itu adalah struktur dasar kepribadian (basic personality structure) dan capital personality. Kedua unsur ini merupakan sifat dasar dari manusia yang telah dimiliki sebagai warisan biologis dari orangtuanya.

Bagian ke 2 berisi unsur-unsur yg terdiri atas keyakinan-keyakinan atau asumsi-anggapan yg lebih fleksibel yg sifatnya gampang berubah atau dapat dicermati balik pada lalu hari.

Fase ini merupakan fase yg sangat efektif dalam membangun & berbagi bakat-talenta yang terdapat dalam diri seorang anak. Fase ini diawali menurut usia dua sampai tiga tahun. Fase ini adalah fase perkembangan pada mana rasa aku yg telah dimiliki seseorang anak mulai berkembang karakternya sesuai dengan tipe pergaulan yg ada pada lingkungannya, termasuk struktur tata nilai maupun struktur budayanya.

Fase ini berlangsung nisbi panjang sampai anak menjelang masa kedewasaannya sampai kepribadian tadi mulai tampak menggunakan tipe-tipe konduite yg khas yg tampak dalam hal-hal berikut ini.

Dorongan-dorongan (drives). Unsur ini merupakan pusat dari kehendak manusia untuk melakukan suatu aktivitas yang selanjutnya akan membentuk motif-motif tertentu untuk mewujudkan suatu keinginan. Drives ini dibedakan atas kehendak dan naftsu-naftsu. Kehendak merupakan dorongan-dorongan yang bersifat kultural, artinya sesuai dengan tingkat peradaban dan tingkat perekonomian seseorang. Sedang naftsu-naftsu merupakan kehendak yang terdorong oleh kebutuhan biologis, misalnya naftsu makan, secksual, amarah, dan yang lainnya.’

Naluri (instinct). Naluri adalah suatu dorongan yang bersifat kodrati yang melekat dengan hakikat makhluk hidup. Misalnya seorang ibu mempunyai naluri yang kuat untuk mempunyai anak, mengasuh, dan membesarkan hingga dewasa. Naluri ini dapat dilakukan pada setiap makhluk hidup tanpa harus belajar terlebih dahulu seolah-olah telah menyatu dengan hakikat makhluk hidup.

Getaran hati (emosi). Emosi atau getaran hati adalah sesuatu yang abstrak yang menjadi sumber perasaan manusia. Emosi dapat menjadi pengukur segala sesuatu yang ada pada jiwa manusia, seperti senang, sedih, indah, serasi, dan yang lainnya.

Perangai. Perangai adalah perwujudan dari perpaduan antara hati dan pikiran manusia yang tampak dari raut muka maupun gerak-gerik seseorang. Perangai ini merupakan salah satu unsur dari kepribadian yang mulai riil, dapat dilihat, dan diidentifikasi oleh orang lain.

Intelegensi (IQ). Intelegensi adalah tingkat kemampuan berpikir yang dimiliki oleh seseorang. Sesuatu yang termasuk dalam intelegensi adalah IQ, memori-memori pengetahuan, serta pengalaman-pengalaman yang telah diperoleh seseorang selama melakukan sosialisasi.

Bakat (talent). Bakat pada hakikatnya merupakan sesuatu yang abstrak yang diperoleh seseorang karena warisan biologis yang diturunkan oleh leluhurnya, seperti bakat seni, olahraga, berdagang, berpolitik, dan lainnya. Bakat merupakan sesuatu yang sangat mendasar dalam pengembangkan keterampilan-keterampilan yang ada pada seseorang. Setiap orang memiliki bakat yang berbeda-beda, walaupun berasal dari ayah dan ibu yang sama.

Pada proses perkembangan kepribadian seseorang, fase ini merupakan fase terakhir yang ditandai menggunakan semakin stabilnya konduite-konduite yang khas dari orang tadi. Pada fase ketiga terjadi perkembangan yang relatif permanen, yaitu dengan terbentuknya konduite-konduite yg khas sebagai perwujudan kepribadian yang bersifat abstrak. Setelah kepribadian terbentuk secara tetap, maka dapat diklasifikasikan tiga tipe kepribadian, yaitu menjadi berikut:

Kepribadian normatif (normative man). Kepribadian ini merupakan tipe kepribadian yang ideal, di mana seseorang mempunyai prinsip-prinsip yang kuat untuk menerapkan nilai-nilai sentral yang ada dalam dirinya sebagai hasil sosialisasi pada masa sebelumnya. Seseorang memiliki kepribadian normatif apabila terjadi proses sosialisasi antara perlakuan terhadap dirinya dan perlakuan terhadap orang lain sesuai dengan tata nilai yang ada di dalam masyarakat. Tipe ini ditandai dengan kemampuan menyesuaikan diri yang sangat tinggi dan dapat menampung banyak aspirasi dari orang lain.

Kepribadian otoriter (otoriter man). Tipe ini terbentuk melalui proses sosialisasi individu yang lebih mementingkan kepentingan diri sendiri daripada orang lain. Situasi ini sering terjadi pada anak tunggal, anak yang sejak kecil mendapat dukungan dan perlindungan yang lebih dari lingkungan orang-orang di sekitarnya, serta anak yang sejak kecil memimpin kelompoknya.

Kepribadian perbatasan (marginal man). Kepribadian ini merupakan tipe kepribadian yang relatif labil di mana ciri khas dari prinsip-prinsip dan perilakunya sering kali mengalami perubahan-perubahan, sehingga seolah-olah seseorang mempunyai lebih dari satu corak kepribadian. Seseorang dikatakan memiliki kepribadian perbatasan apabila orang ini memiliki dualisme budaya, misalnya karena proses perkawinan atau karena situasi tertentu hingga mereka harus mengabdi pada dua struktur budaya masyarakat yang berbeda.

Semoga berguna Materi Pelajaran

Kuliner Khas Kutai Timur

Sambal raja terbuat dari cabai, bawang merah, terasi, tomat yang digoreng hingga lembek dan mudah dihaluskan. Disertai dengan tempe, udang, ...