Rabu, 21 Oktober 2020

Kanker Serviks (Artikel Lengkap)

Kanker serviks atau kanker leher rahim adalah kanker yg ada berdasarkan serviks (leher rahim). Kanker ini terjadi karena adanya pertumbuhan sel-sel secara abnormal sehingga mempunyai kemampuan untuk menyerang atau menyebar ke bagian lain tubuh. Pada awalnya, tanda-tanda tidak terlihat. Gejala yg ada mungkin termasuk pendarahan vagina abnormal, nyeri panggul, atau rasa sakit selama melakukan interaksi seksual. Pendarahan sesudah melakukan hubungan seksual mungkin bisa menandakan adanya kanker serviks.

Human papilomavirus (HPV) menjadi penyebab lebih dari 90% masalah. Namun kebanyakan orang yg terinfeksi HPV tidak menyebarkan kanker serviks. Faktor yg sebagai risiko antara lain rokok, sistem kekebalan tubuh yang lemah, pil KB, melakukan hubungan seksual pada usia belia, dan melakukan interaksi seksual menggunakan banyak pasangan. Kanker serviks umumnya berkembang berdasarkan prakanker selama lebih dari 10 sampai 20 tahun. Sekitar 90% menurut kasus kanker serviks adalah karsinoma sel skuamosa, 10% adalah adenokarsinoma, & sisanya yang lainnya. Diagnosis umumnya dilakukan menggunakan skrining serviks diikuti menggunakan biopsi. Pencitraan medis kemudian dilakukan buat menentukan apakah kanker telah menyebar.

Simbol kanker serviks

Vaksin HPV melindungi dari dua sampai tujuh keluarga virus yang beresiko & mungkin mencegah kanker serviks hingga 90%. Dengan resiko kanker yang masih ada, disarankan buat melakukan pap smear secara rutin. Cara lain buat mencegahnya termasuk: nir acapkali melakukan interaksi badan & penggunaan kondom. Skrining kanker serviks memakai pap smear atau asam asetat bisa mengidentifikasi perubahan prakanker yg bisa diobati dan buat mencegah perkembangan kanker. Pengobatan kanker serviks dapat dilakukan menggunakan beberapa kombinasi diantaranya operasi, kemoterapi, dan radioterapi. Tingkat kelangsungan hidup penderita selama lima tahun di Amerika Serikat adalah 68%. Hasilnya sangat bergantung pada seberapa dini kanker terdeteksi.

1. Tanda & Gejala Kanker Serviks

Tahap awal kanker serviks kemungkinan tanpa gejala. Pendarahan dalam vagina & pendarahan sesudah hubungan seksual mungkin mengindikasikan adanya kanker. Nyeri selama bekerjasama seksual dan keputihan pula sanggup sebagai gejala kanker serviks.

Gejala kanker serviks stadium lanjut meliputi kehilangan nafsu makan, berat badan menurun, kelelahan, nyeri dalam panggul, nyeri punggung, nyeri pada kaki, kaki bengkak, & pendarahan vagina berat. Pendarahan sehabis inspeksi pelvis adalah tanda-tanda umum kanker serviks.

2. Penyebab Kanker Serviks

Infeksi beberapa jenis HPV adalah faktor risiko terbesar kanker serviks, diikuti menggunakan merokok. Infeksi HIV juga merupakan faktor risiko. Tidak seluruh penyebab kanker serviks diketahui.

Human papillomavirus tipe 16 & 18 adalah penyebab 75% kanker serviks pada semua dunia. Sedangkan tipe 31 & 45 menjadi 10% penyebabnya. Wanita yg sudah melakukan hubungan seksual menggunakan banyak laki-laki mempunyai resiko lebih akbar terjangkit HPV.

Dari 150 sampai 200 tipe HPV yang sudah diketahui, 15 tipe diklasifikasikan sebagai tipe berisiko tinggi (16, 18, 31, 33, 35, 39, 45, 51, 52, 56, 58, 59, 68, 73, & 82), tiga tipe mungkin berisiko tinggi (26, 53, & 66), dan 12 tipe risiko rendah (6, 11, 40, 42, 43, 44, 54, 61, 70, 72, 81, dan CP6108).

Kutil pada kelamin, yg merupakan bentuk tumor jinak jaringan epitel, juga ditimbulkan sang banyak sekali jenis HPV. Tetapi umumnya nir herbi kanker serviks. Infeksi HPV diyakini dibutuhkan agar kanker serviks terjadi.

Perokok aktif maupun pasif memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker serviks. Pada wanita terinfeksi HPV yang adalah perokok & mantan perokok memiliki risiko 2 sampai tiga kali lebih poly terkena kanker invasif. Perokok pasif jua dapat menaikkan risiko, namun pada tingkat yg lebih rendah.

Merokok jua terkait dengan perkembangan kanker serviks. Merokok dapat mempertinggi risiko dalam perempuan menggunakan beberapa cara, baik secara eksklusif maupun tidak eksklusif merangsang kanker serviks. Cara pribadi buat merangsang kanker serviks pada perokok adalah menaikkan kesempatan CIN3 muncul yang berpotensi membentuk kanker serviks. Ketika CIN3 menyebabkan kanker, kebanyakan tidak dibantu perkembangan kankernya sang virus HPV. Perokok berat & perokok jangka panjang mempunyai risiko lebih tinggi memunculkan CIN3 dibandingkan perokok ringan atau nir merokok sepenuhnya. Meskipun merokok dikaitkan menggunakan kanker serviks, merokok membantu perkembangan HPV yang sebagai penyebab primer kanker serviks.

Kontrasepsi oral dalam jangka panjang berkaitan menggunakan peningkatan risiko terkena kanker serviks. Wanita yang menggunakan kontrasepsi oral selama 5 hingga 9 tahun memiliki risiko tiga kali terkena kanker invasif, sedangkan penggunaan diatas 10 tahun mempunyai risiko sekitar empat kali.

Memiliki banyak kehamilan berkaitan menggunakan peningkatan risiko kanker serviks. Wanita terinfeksi HPV yg sudah hamil sebesar tujuh kali atau lebih memiliki lebih kurang empat kali risiko terkena kanker dibandingkan perempuan yg nir pernah hamil, dan dua sampai 3 kali risiko terkena kanker dalam wanita yang hamil sekali atau 2 kali.

Tiga. Diagnosa Kanker Serviks

Pap smear bisa dipakai untuk uji skrining, tetapi 50% gagal mendeteksi kanker serviks. Konfirmasi diagnosa kanker serviks atau pra kanker memerlukan biopsi pada serviks, sering melalui kolposkopi. Pemeriksaan perbesaran visual serviks yang dibantu dengan menggunakan larutan asam asetat encer (misalnya cuka) untuk menyoroti sel abnormal pada bagian atas serviks. Perangkat medis yang dipakai buat biopsi dalam serviks yaitu punch forceps, SpiraBrush CX, SoftBiopsy, atau Soft-ECC. Penilaian kolposkopi & asumsi keparahan penyakit berdasarkan pemeriksaan visual adalah bagian dari diagnosis.

Prosedur diagnosa & penanganan lebih lanjut merupakan loop electrical excision mekanisme (LEEP) dan konisasi, dimana lapisan dalam leher rahim diangkat buat diperiksa secara patologis. Prosedur tadi dilakukan bila biopsi mengkonfirmasi adanya neoplasima intraepitelial parah pada serviks.

Neoplasia intraepitel serviks yg merupakan awal potensial kanker serviks, tak jarang didiagnosis pada pemeriksaan biopsi serviks sang seorang ahli patologi. Untuk perubahan displastik premaligna, gradasi neoplasia intraepitel serviks dipakai.

Penamaan & klasifikasi histologi lesi prekursor karsinoma serviks sudah berubah berulang kali sepanjang abad 20. Sistem klasifikasi WHO mengungkapkan lesi dan menamainya displasia ringan, sedang, berat, atau inisial in situ. Istilah Cervical Intraepithelial Neoplasma (CIN) dikembangkan buat memberi fokus dalam spektrum kelainan dalam lesi ini dan untuk membantu standarisasi pengobatan. Terdapat beberapa penjabaran displasia ringan menjadi CIN1, displasia sedang menjadi CIN2, dan displasia parah sebagai CIN3. Baru-baru ini, CIN2 & CIN3 sudah digabung sebagai CIN2/tiga. Hasil ini mungkin akan dilaporkan sang seorang pakar patologi setelah biopsi.

Hal tadi tidak boleh disalahartikan dengan sistem Bethesda buat output pap smear (sitopatologi). Pada hasil Bethesda masih ada Lesi Intraepithelial Tingkat Rendah (LSIL) dan Lesi Intraepithelial Skuamosa Tingkat Tinggi (HSIL). LSIL mungkin sinkron menggunakan CIN1, dan HSIL mungkin sinkron menggunakan CIN2 dan CIN3, tetapi hasilnya tidak sama dan hasil pap smear tidak sesuai dengan temuan histologis.

Subjenis histologis karsinoma serviks invasif meliputi:

Karsinoma sel skuamosa (lebih kurang 80-85%)

Adenokarsinoma (sekitar 15% dari penderita kanker serviks pada Inggris)

Adenoskuamosa karsinoma

Karsinoma sel kecil

Tumor neuroendokrin

Villoglandular adenocarcinoma.

Keganasan non-karsinoma yang sporadis terjadi dalam serviks meliputi melanoma dan limfoma. Untuk perkara yg diobati dengan pembedahan, informasi yang diperoleh berdasarkan pakar patologi bisa dipakai buat menentukan termin patologis yang terpisah, namun nir buat menggantikan tahapan klinis.

Stadium kanker serviks dipengaruhi menurut sistem stadium Federasi Internasional Ginekologi & Obstetri (FIGO), yang didasari inspeksi klinis dibandingkan temuan bedah. Untuk memilih stadium kanker serviks hanya bisa memakai beberapa tes diagnosa seperti palpasi, kolposkopi, endoserviks, kuretase, histeroskopi, sitoskopi, proktoskopi, urografi intravena, inspeksi sinar X dalam paru-paru, dan konisasi serviks. Stadium kanker serviks mulai menurut 1A, 1B, 2A, 2B, 3B, 4A, & 4B

Kanker Serviks Stadium 1A

Kanker serviks stadium 1AGambar diatas adalah gambaran kanker serviks stadium 1A. Terdapat 2 jenis yaitu stadium 1A1 dan 1A2.

Kanker Serviks Stadium 1B

Kanker-serviks-stadium-1B

Gambar diatas adalah gambaran kanker serviks stadium 1B. Terdapat dua jenis yaitu stadium 1B1 dan 1B2. Pada stadium 1B1, berukuran kanker serviks lebih kecil dari 4 centimeter. Sedangkan pada stadium 1B2, ukuran kanker serviks lebih akbar menurut 4 centimeter

Kanker Serviks Stadium 2A

Kanker-serviks-stadium-2A

Pada kanker serviks stadium 2A, kanker sudah berkembang pada permukaan vagina.

Kanker Serviks Stadium 2B

Kanker-serviks-stadium-2B

Pada kanker serviks stadium 2B, kanker sudah berkembang pada jaringan sekitar serviks.

Kanker Serviks Stadium 3B

Kanker-serviks-stadium-3B

Pada kanker serviks stadium 3B, kanker sudah menyebar ke ureter sebagai akibatnya ureter terblokir.

Kanker Serviks Stadium 4A

Kanker-serviks-stadium-4A

Pada kanker serviks stadium 4A, kanker telah menyebar pada sekitar rektum, kandung kemih, rahim, dan vagina.

Kanker Serviks Stadium 4B

Kanker-serviks-stadium-4B

Pada kanker serviks stadium 4B, kanker sudah menyebar ke paru-paru.

4. Pencegahan Kanker Serviks

Memeriksa serviks menggunakan Pap smear, untuk kanker serviks telah mengurangi nomor masalah dan kematian karena kanker serviks pada negara berkembang. Skrining pap smear setiap tiga-lima tahun menggunakan tindak lanjut yg sesuai dapat mengurangi terjadinya kanker serviks hingga 80%. Hasil yg abnormal mungkin memberitahuakn perubahan ke pra kanker yang wajib diikuti menggunakan penilaian dan tindakan penanganan yang sempurna. Pengobatan lesi taraf rendah dapat mensugesti kesuburan & kehamilan berikutnya. Kampanye pemerintah buat mengajak wanita melakukan skrining berhasil mempertinggi minat melakukan skrining.

Menurut pedoman Eropa 2010, usia melakukan skrining berkisar antara usia 20 sampai 30 tahun. Jauh lebih baik bila dilakukan sebelum usia 25 tahun. Di Amerika Serikat, skrining direkomendasikan mulai menurut usia 21 tahun. Pap smear wajib dilakukan setiap tiga tahun dalam usia 21 dan 65 tahun. Untuk wanita berusia diatas 65 tahun, skrining sanggup dilarang apabila nir terdapat output skrining abnormal selama 10 tahun terakhir dan nir ada riwayat CIN dua atau lebih tinggi.

Pap smear tidak efektif pada negara berkembang karena kebanyakan nir mempunyai infrastruktur kesehatan yg baik, sumber daya manusia yg melakukan pap smear masih sedikit dan kurang keterampilan, kurangnya pemahaman wanita sehingga acapkali tidak ditindaklanjuti, & lamanya output skrining keluar.

Penggunaan pelindung atau penggunaan gel spermatidal selama melakukan interaksi seksual bisa mengurangi risiko kanker. Kondom pula bisa melindungi menurut infeksi HPV dan prekursor kanker serviks. Selain itu pula dapat melindungi menurut HIV & klamidia, yg sangat berisiko mengakibatkan kanker.

Kondom pula bermanfaat mengobati perubahan pra-kanker yang berpotensi sebagai kanker serviks. Paparan sperma bisa menaikkan risiko perubahan prakanker menjadi CIN tiga dan kondom dapat mencegahnya dan membantu membersihkan HPV. Kandungan prostaglandin pada sperma dapat memicu pertumbuhan tumor serviks & rahim.

Dua vaksin HPV (gardasil dan cervarix) bisa menurunkan risiko kanker atau perubahan pra kanker serviks lebih kurang 93%. Vaksin 92% hingga 100% efektif melawan HPV 16 dan 18 hingga menggunakan 8 tahun.

Vaksin HPV umumnya diberikan pada usia 9 sampai 26 tahun & hanya efektif bila diberikan sebelum infeksi terjadi. Vaksin efektif selama 4 sampai 6 tahun. Namun, durasi efektivitas nir diketahui. Tingginya porto vaksin menjadi perhatian. Beberapa negara melakukan acara pendanaan vaksinasi HPV.

Vitamin A, vitamin B12, vitamin C, vitamin E, dan beta karoten dapat menurunkan risiko kanker serviks.

Lima. Penanganan & Pengobatan Kanker Serviks

Pengobatan kanker serviks tidak sama pada seluruh dunia, bergantung pada akses ke pakar bedah yang ahli pada operasi pelvis & adanya ?Pengobatan alternatif? Pada negara berkembang. Lantaran kanker serviks tergolong radiosensitif, radiasi dapat digunakan di seluruh stadium apabila pilihan pembedahan tidak ada. Hasil bedah kemungkinan memiliki output yang lebih baik daripada pendekatan radiologi.

Kanker mikro invasif (stadium IA) dapat ditangani menggunakan histerektomi (pengangkatan semua rahim termasuk sebagian vagina). Untuk stadium IA2, kelenjar getah bening diangkat. Alternatifnya berupa biopsi kerucut (konisasi).

Bila biopsi kerucut tidak menghasilkan hasil yang jelas (temuan biopsi menunjukkan bahwa tumor dikelilingi oleh jaringan bebas kanker), pilihan pengobatan yang lebih mungkin bagi wanita yang ingin mempertahankan kesuburan mereka adalah dengan trakelektomi. Trakelektomi adalah pembedahan yang mencoba untuk menyingkirkan kanker dengan tetap menjaga ovarium dan rahim. Hasilnya lebih konservatif daripada histerektomi. Trakelektomi merupakan pilihan tepat bagi penderita kanker serviks stadium I yang belum menyebar. Namun, hal tersebut belum dianggap sebagai standar penanganan, karena hanya sedikit dokter yang ahli dalam prosedur ini. Bahkan ahli bedah paling berpengalaman pun tidak dapat menjamin bahwa trakelektomi dapat dilakukan setelah pemeriksaan mikroskopis, karena tidak diketahui sejauh mana kanker telah menyebar. Jika ahli bedah secara mikroskopis tidak dapat  mengkonfirmasi batas yang jelas dari jaringan serviks setelah wanita tersebut berada dalam anestesi umum di ruang operasi, diperlukan histerektomi. Histerektomi hanya dilakukan jika wanita tersebut telah memberikan persetujuan sebelumnya. Karena kemungkinan risiko kanker menyebar ke kelenjar getah bening pada kanker stadium 1B dan beberapa stadium 1A, ahli bedah mungkin juga perlu mengangkat sebagian kelenjar getah bening di sekitar rahim untuk evaluasi patologi.

Trakelektomi dapat dilakukan melalui perut atau vagina, dan masih terjadi perdebatan dari mana yg paling baik. Trakelektomi abdomen umumnya hanya memerlukan rawat inap di rumah sakit selama dua sampai 3 hari, dan kebanyakan perempuan pulih menggunakan sangat cepat (sekitar enam minggu). Komplikasi sporadis terjadi, namun perempuan yg sanggup mengandung selesainya operasi rentan terhadap persalinan prematur dan kemungkinan keguguran. Dianjurkan menunggu minimal satu tahun selesainya operasi sebelum mencoba buat hamil. Kekambuhan dalam serviks sangat jarang terjadi jika kanker telah dibersihkan menggunakan trakelektomi. Namun, perempuan dianjurkan buat melakukan pencegahan dan perawatan tindak lanjut termasuk pap smear dan biopsi dalam residu segmen rahim setiap 3-4 bulan setidaknya selama lima tahun untuk memantau kekambuhan & meminimalkan terkena HPV melalui interaksi seksual.

Kanker serviks stadium IB1 dan IIA kurang berdasarkan 4cm dapat ditangani dengan histerektomi menggunakan menghilangkan kelenjar getah bening atau terapi radiasi. Untuk stadium IB2 dan IIA lebih dari 4cm mungkin dapat ditangani dengan terapi radiasi & kemoterapi cisplatin, atau histerektomi. Kanker serviks stadium IIB & IVA ditangani menggunakan terapi radiasi dan kemoterapi cisplatin. Untuk kanker serviks stadium akhir (IVB) ditangani dengan kemoterapi kombinasi hycamtin dan cisplatin dengan impak samping peningkatan risiko neutropenia, anemia, dan trombositopenia.

6. Komplikasi Kanker Serviks

Komplikasi kanker serviks bisa terjadi menjadi imbas samping pengobatan atau menjadi dampak kanker serviks lanjutan.

Menopause Awal

Jika ovarium dibedah atau rusak selama pengobatan menggunakan radioterapi, maka akan memicu menopause awal. Secara normal, perempuan akan mengalami menopause di usia lima puluh tahunan. Menopause terjadi ketika ovarium berhenti menghasilkan hormon estrogen dan progesteron.

Penyempitan Vagina

Radioterapi buat mengobati kanker serviks acapkali menyebabkan vagina menyempit yg bisa akan menyakitkan atau menyulitkan saat melakukan interaksi seksual.

Limfedema

Jika kelenjar getah bening dalam panggul diangkat, terkadang dapat mengganggu fungsi sistem limfatik. Salah satu fungsi sistem limfatik adalah menguras kelebihan cairan tubuh. Jika fungsi ini terganggu maka bisa terjadi penumpukan cairan pada jaringan yg dikenal menjadi limfedema. Lemfedema mengakibatkan bagian-bagian eksklusif sebagai bengkak, umumnya kaki.

Rasa Sakit

apabila kanker menyebar ke tulang, ujung saraf atau otot, sering mengakibatkan sakit parah. Obat penghilang sakit seperti parasetamol & ibuprofen dapat digunakan buat mengurangi rasa sakit.

Gagal Ginjal

Dalam beberapa kasus kanker serviks, kanker bisa menekan ureter sebagai akibatnya menghalangi genre urine menurut ginjal. Hal tadi mengakibatkan ginjal membengkak & bahkan dapat menghilangkan sebagian atau semua fungsi ginjal.

Darah Menggumpal

Seperti halnya dengan kanker lain, kanker serviks juga dapat membuat darah menjadi ?Lengket? & lebih rentan membeku. Kanker dapat menekan vena pada panggul, yang bisa memperlambat aliran darah sebagai akibatnya terjadi pembekuan darah pada kaki.

Pendarahan

apabila kanker menyebar ke pada vagina, kandung kemih, atau usus, maka bisa menyebabkan kerusakan yang signifikan sehingga terjadi pendarahan. Pendarahan dapat terjadi pada dalam vagina atau rektum.

Serta komplikasi lain merupakan fistula dan keputihan. Namun umumnya sporadis terjadi.

7. Prognosis Kanker Serviks

Prognosis bergantung dalam stadium kanker. Kemungkinan taraf kelangsungan hidup sekitar 100% dalam perempuan dengan kanker serviks berukuran mikroskopis. Dengan pengobatan, tingkat kelangsungan hidup 5 tahun buat termin awal kanker serviks adalah 92%.

Dengan pengobatan, 80-90% wanita menggunakan kanker serviks stadium I & 60-75% wanita menggunakan kanker serviks stadium II hidup lima tahun sesudah penaksiran. Tingkat kelangsungan hayati menurun menjadi 30-40% buat perempuan dengan kanker stadium III & 15% atau kurang bagi yang menderita kanker stadium IV. Kelangsungan hidup membaik saat radioterapi dikombinasikan dengan kemoterapi berbasis cisplatin.

Seiring kanker menyebar ke bagian lain tubuh, prognosis turun drastis lantaran pengobatan lesi lokal biasanya lebih efektif daripada perawatan semua tubuh seperti kemoterapi.

Evaluasi sehabis terapi sangat krusial. Kanker serviks yg terdeteksi pada termin awal mungkin berhasil diobati dengan operasi, radiasi, kemoterapi, atau kombinasi ketiganya. Sekitar 35% perempuan dengan kanker serviks invasif mempunyai penyakit berulang selesainya perawatan. Rata-rata potensi hidup yg hilang dampak kanker serviks adalah 25,tiga tahun.

Skrining rutin berarti perubahan pra kanker & kanker serviks stadium awal telah terdeteksi dan diobati lebih awal. Skrining serviks menyelamatkan 5.000 orang setiap tahun di Inggris berdasarkan kanker serviks.

8. Epidemiologi Kanker Serviks

Di seluruh global, kanker serviks merupakan kanker paling generik keempat. Pada tahun 2012, diperkirakan terjadi 528.000 perkara kanker serviks dengan 266.000 kematian. Pada perempuan , kanker serviks adalah kanker umum nomor dua sesudah kanker payudara yakni sekitar 8% dari total kasus kanker. Sekitar 80% kanker serviks terjadi di negara berkembang.

Anda mampu request artikel apa saja melalui hedisasrawan@merahputih.Id atau pribadi saja lewat komentar dibawah :)

Kuliner Khas Kutai Timur

Sambal raja terbuat dari cabai, bawang merah, terasi, tomat yang digoreng hingga lembek dan mudah dihaluskan. Disertai dengan tempe, udang, ...