Minggu, 21 Juni 2020

Jenis Hama dan Penyakit Pada Tanaman Jagung

Jenis Hama dan Penyakit Pada Tanaman Jagung

Posted by Agrikompleks

Jenis Hama dan Penyakit Pada Tanaman Jagung - Adapun jenis-jenis hama yang sering menyerang tanaman jagung menurut Nonci, dkk (1996) adalah sebagai berikut :

Hama dan penyakit tanaman jagung

Lalat Bibit (Atherigona sp.)

Lalat bibit ukuran kecil, telur berbentuk memanjang dan diletakkan dalam daun termuda (hypocoty). Setelah 48 jam telur menetas dalam ketika malam, tempayak keluar berdasarkan telur kemudian bergerak cepat menuju titik tumbuh yang merupakan kuliner utamanya.

Hama ini mulai menyerang tumbuhan semenjak tumbuh hingga tanaman berumur lebih kurang satu bulan. Pada agresi berat, flora jagung dapat menjadi layu ataupun mati dan jika nir tewas pertumbuhannya terhambat (Kalshoven 1981).

Lalat bibit cepat berkembang biak dengan pada kelembaban tinggi, oleh karenanya di ekspresi dominan hujan lalat ini adalah hama primer jagung. Siklus hidupnya berkisar 15?25 hari. Seekor lalat bibit betina mampu bertelur 20?25 buah.

Ulat Tanah (Agrotis ipsilon Hwfn.)

Ngengat Agrotis ipsilon meletakkan telur satu persatu dalam barisan atau diletakkan rapat dalam galat satu bagian atas daun pada bagian flora dekat menggunakan bagian atas tanah. Seekor ngengat betina dapat bertelur ? 1800 buah. Stadia telur 6?7 hari.

Larva muda bersifat fototaksis, sedang larva yg lebih tua bersifat geotaksis sehingga pada siang hari bersembunyi pada dalam tanah dan ada pulang buat makan pada malam hari. Satu generasi dapat berlangsung 4?6 minggu.

Lundi (Uret) (Phyllophaga Hellen)

Kumbang ada atau terbang sesudah ada hujan pertama yg relatif lebat sehingga menyebabkan tanah relatif lembab. Telur diletakkan satu persatu di pada tanah. Stadium telur 10 -11 hari. Stadium larva aktif ? 5,5 bulan & larva tidak aktif kurang lebih 40 hari. Larva menyerang flora jagung dibagian perakaran, sehingga menyebabkan tanaman menjadi layu & bisa rebah atau tewas.

Penggerek Batang (Ostrinia Furnacalis Guenee)

Pada biasanya telur Ostrinia furnacalis yang mencapai 90 butir diletakkan dalam tulang daun bagian bawah berdasarkan tiga daun teratas. Ulat yg keluar berdasarkan telur menuju bunga jantan dan menyebar bersama angin.

Ada jua yg pribadi menggerek tulang daun yg telah terbuka, lalu menuju btg & menggerek btg tersebut serta membangun lorong menunjuk ke atas. Setelah hingga dibuku bagian atas, ulat segera turun kebuku bagian bawah. Ulat berpupa pada pada btg. Seekor ngengat betina bisa bertelur 300? 500 butir. Siklus hidup 22?45 hari.

Batang tanaman jagung umumnya patah-patah lalu flora meninggal karena terhentinya translokasi hara menurut akar flora ke daun (Kalshoven 1981). O. Furnacalis mulai dijumpai pada umur 40 HST yaitu hanya ada 4 gerombolan telur (KT) per 100 tanaman .

Ulat Grayak (Spodoptera Litura F., Mythimna Separata)

Ulat ini ada dipertanaman sesudah 11 ? 30 HST. Serangan pada tanaman muda dapat menghambat pertumbuhan flora bahkan bisa mematikan flora. Serangan berat dalam pertanaman dapat mengakibatkan tinggal tulang-tulang daun saja.

Ngengat betina meletakkan gerombolan - gerombolan telur yang ditutupi bulu-bulu halus berwarna merah sawo pada bagian atas bawah daun. Setiap gerombolan telur terdiri menurut 100 ? 300 butir. Seekor ngengat betina mampu bertelur 1000 ? 2000 buah. Masa telur tiga ? 4 hari, ulat 17 ? 20 hari, kepompong 10 ? 14 hari. Siklus hidupnya 36 ? 45 hari (Kalshoven 1981). Pengendalian: menggunakan menggunakan insektisida Carbofuran tiga% diberikan pada pucuk flora.

Wereng Jagung (Peregrinus Maidis Ashm.)

Bentuk dan berukuran serangga dewasa seperti menggunakan hama wereng coklat dewasa yang meyerang padi. Siklus hidup 25 hari, masa telur 8 hari, telurnya berbentuk bundar panjang & agak membengkok (misalnya butir pisang), rona putih bening yg diletakkan pada jaringan pelepah daun secara terpisah atau berkelompok (Lilies 1991).

Nimpa mengalami lima instar, instar pertama berwarna kemerah-merahan kemudian berangsur-angsur berubah menjadi putih kekuning-kuningan. Disepanjang permukaan atas badannya terdapat bintik-bintik mini berwarna coklat (Gabriel 1971).

Instar pertama menyukai daun-daun yang baru tebuka, pelepah daun, kelopak daun dan bunga jantan yang masih muda dan lunak (Saranga 1980).  Tubuh wereng dewasa berwarna kuning kecoklatan, sayap bening dan kedua mata berwarna hitam. Terdapat duri pada tibia belakang yang dapat berputar (Saranga dan Fachruddin 1978).

Gejala serangan pada daun tampak bercak bergaris kuning, garis-garis pendek terputus-putus sampai bersambung terutama pada tulang daun kedua dan ketiga.  Daun tampak bergaris kuning panjang, begitu pula pada pelepah daun. Pertumbuhan tanaman akan terhambat, menjadi kerdil, tanaman menjadi layu dan kering (hopper burn). Pengendalian : waktu tanam serempak, waktu tanam dilakukan pada akhir musim hujan dan bila menggunakan insektisida gunakan insektisida Carbofuran 3%.

Penggerek Tongkol (Helicoverpa Armigera Hubn.)

Serangga ini ada di pertanaman dalam umur 45 ? 56 hari sehabis tanam (HST), bersamaan menggunakan munculnya rambut-rambut tongkol. Telur diletakkan pada rambut-rambut tongkol secara tunggal, dan menetas setelah ? 4 hari.

Ulat ini menjadi pupa di dalam tongkol atau di tanah. Ngengat aktif pada malam hari dan mampu bertelur 600 – 1000 butir. Stadia pupa berkisar antara 12 – 14 hari. Selain menyerang tongkol juga menyerang pucuk dan menyerang malai sehingga bunga jantan tidak terbentuk yang mengakibatkan hasil berkurang. Siklus hidupnya ± 36 – 45 hari.  Populasi telur penggerek tongkol mulai dijumpai di jambul tongkol pada umur 50 HST dengan jumlah yang cukup tinggi yaitu 336 butir/100 tanaman.

Adapun jenis-jenis penyakit yang sering menyerang flora jagung menurut Nonci, dkk (1996) adalah menjadi berikut :

Penyakit Bulai (Peronosclerospora sp.)

Di Indonesia terdapat dua jenis cendawan yang bisa mengakibatkan penyakit bulai yaitu P. Maydis & P. Philippinensis (Semangun 1973). Tetapi pada tahun 2003 telah ditemukan P. Sorghi pada Dataran Tinggi Karo, Sumatera Utara (Wakman & Hasanuddin 2003).

Gejala penyakit bulai ini, daun berklorosis sebagian atau seluruh daun, bila tumbuhan terinfeksi lebih awal akan menyebabkan flora kerdil, nir berbuah, namun bila bertongkol, tongkolnya tidak normal dan bisa jua mengakibatkan flora meninggal.

Penyakit Virus Mozaik Kerdil (VMK)

Penyebab penyakit ini ditimbulkan oleh Virus Mozaik Tebu, Virus Mozaik Ketimun atau Virus Mozaik Kerdil. Gejala terlihat pada daun dengan adanya perubahan rona yg menjadi hijau belia diantara hijau tua normal.

Penyakit Bercak Daun (Bipolaris Maydis)

Penyebab penyakit bercak daun merupakan cendawan Helminthosporium turcicum Pass. Atau Helminthosporium maydis Nisik. Gejala serangan menurut Semangun (1991), flora jagung yg terjangkit cendawan ini menampakkan tanda-tanda berupa bercak coklat kelabu misalnya jerami dalam permukaan daun dengan ukuran panjang 4 centimeter dan lebar 0,6 centimeter buat Bipolaris maydis, & buat H. Turcicum mempunyai berukuran panjang lima ? 15 cm dan lebar 1 ? Dua cm.

Penyakit Hawar/Upih Daun (Rhizoctonia solani Kuhn.)

Penyebab penyakit ini merupakan cendawan Rhizoctonia solani Kuhn. Gejala bercak melebar dalam daun juga pada pelepah berwarna merah keabu-abuan, terlihat adanya butiran berwarna putih (sclerotia) yg dapat berubah rona sebagai agak coklat yg menempel dalam bagian atas daun/pelepah yang terinfeksi. Umumnya menyerang pada animo hujan.

Sumber :

Nonci, N., J. Tandiabang, Masmawati, dan A. Muis. 1996. Kehilangan Hasil Oleh Penggerek Jagung O. furnacalis pada Berbagai Stadia Tanaman Jagung. Hasil Penelitian Hama/Penyakit 1995/1996. Balitjas Maros. pp. 27-33.

Kuliner Khas Kutai Timur

Sambal raja terbuat dari cabai, bawang merah, terasi, tomat yang digoreng hingga lembek dan mudah dihaluskan. Disertai dengan tempe, udang, ...